Senin, 26 Agustus 2013

MUSEUM DR. IR. SOEKARNO TAMPAK SIRING BALI

Museum ini terletak di Tampak Siring Gianyar Bali. Di depan museum yang diresmikan oleh Sukmawati ini, terdapat patung Soekarno setinggi 9 meter, pembuat patung Soekarno adalah I Nyoman Nuartha, sang maestro patung Bali yang terkenal sebagai pembuat patung Garuda Wisnu Kencana.

Museum yang didirikan oleh The Soekarno Center ini menyimpan sekitar 150 koleksi foto Bung Karno dan memamerkan segala macam koleksi yang dimiliki keluarga besar Soekarno serta beberapa barang sumbangan dari para sahabat. Selain itu, museum ini juga menyimpan banyak koleksi buku karya Soekarno.

Apabila ada pengunjung yang ingin mendapatkan souvenir yang berhubungan dengan Bung Karno, tidak jauh dari museum, terdapat toko besar yang khusus menjual souvenir dan buka hingga malam hari.




Rabu, 21 Agustus 2013

Magna Charta

Magna Carta adalah piagam yang dikeluarkan di Inggris pada tanggal 15 Juni 1215 guna membatasi monarki Inggris, sejak masa Raja John, dari kekuasaan absolut. Magna Carta terjadi akibat adanya perselisihan antara Paus, Raja John, serta para baron mengenai hak-hak raja: Magna Carta mengharuskan raja untuk membatalkan beberapa hak dan menghargai beberapa prosedur legal, dan untuk menerima bahwa keinginan raja dapat dibatasi oleh hukum. 
Magna Carta adalah langkah pertama dalam proses sejarah yang panjang yang menuju ke pembuatan hukum konstitusional. Isi Magna Carta sebagai berikut: 
1) Raja beserta keturunannya berjanji akan menghormati kemerdekaan, hak, dan kebebasan Gereja Inggris. 
2) Raja berjanji kepada penduduk kerajaan yang bebas untuk memberikan hak-hak. 
3) Para petugas keamanan dan pemungut pajak akan menghormati hak-hak penduduk. 
4) Polisi ataupun jaksa tidak dapat menuntut seseorang tanpa bukti dan saksi yang sah. 
5) Seseorang yang bukan budak tidak akan ditahan, ditangkap, dinyatakan bersalah tanpa perlindungan negara dan tanpa alasan hukum sebagai dasar tindakannya. 
6) Apabila seseorang tanpa perlindungan hukum sudah terlanjur ditahan, raja berjanji akan mengoreksi kesalahannya. 

Magna Carta dianggap sebagai lambang perjuangan hak-hak asasi manusia, dan dianggap sebagai tonggak perjuangan lahirnya hak asasi manusia.

Minggu, 11 Agustus 2013

Ibadah yang Memprioritaskan Allah Hagai 2:16-23

Kitab Hagai adalah yang pertama dari ketiga kitab nabi pasca pembuangan. Hagai adalah seorang utusan Tuhan dan termasuk salah seorang dari sebagian kecil bangsa Yahudi yang kembali dari pembuangan dan tinggal di Yerusalem. Ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan, mereka rindu untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci yang dahulu pernah dibangun oleh Raja Salomo dan akhirnya diruntuhkan oleh Raja Nebukadnezar dan berakibat dibuangnya bangsa Israel ke tanah Babel;

Sepanjang kurun waktu empat bulan pada tahun 520 SM. Hagai memberitakan beberapa berita singkat yang tercatat dalam kitab ini:
  • Hagai menasehati Zerubabel (gubernur saat itu) dan Yoshua (Imam Besar) agar mengerahkan umat untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem;
  • Memotivasi bangsa Israel agar menata kembali hidup dan prioritas mereka untuk melanjutkan tugas mereka secara sungguh-sungguh dengan berkat Allah.
Allah menghukum Israel karena dosa-dosa yang dilakukan oleh para pemimpin Israel yang bersikap tidak tunduk kepada Allah sehingga mengakibatkan kemerosotan rohani di selurh bangsa Israel.

Bagi bangsa Israel, Bait Allah bukan saja menjadi sarana untuk beribadah kepada Allah, tetapi juga menjadi suatu lambang dari hegemoni suatu bangsa. Bait Allah melambangkan kehadiran Allah di tengah-tengah bangsa Israel, itu sebabnya ketika Bait Allah dihancurkan bangsa Israel mengalami keterpurukan secara moral. Mereka kecewa dan berada di jurang keputusasaan karena menyaksikan kejayaan Kerajaan Israel tidak seperti di jaman Raja Daud.

Ketika Hagai berbicara menegnai penataan kembali hidup, berarti Hagai mengajak seluruh bangsa Israel untuk kembali menjadikan Allah sebagai prioritas hidup mereka. Jika kita membaca pada ayat yang ke 19-20, maka ada 3 hal yang dapat dijadikan benang merah:
  • Allah adalah setia. Allah setia teradap perkataanNya. Ia tidak ingkar akan janjiNya;
  • Umat yang berdosa dituntut untuk taat dan bertobat serta meningalkan dosa-dosa mereka;
  • Sikap pertobatan yang sunguh-sungguh ditandai dengan hati yang berbalik kepada Allah serta penyerahan total dalam seluruh aspek kehidupan.
Lalu apakah hubungannya antara ibadah yang sejati dengan pertobatan dan pembangunan Rumah Tuhan?

Jika membiarkan Rumah Allah tetap menjadi reruntuhan dan sibuk dengan urusan rumahnya sendiri, maka tidak ada pertolongan Tuhan dalam setiap usahanya (Hagai 1:1-11)

Melalui perenungan minggu ini, Tuhan mengingatkan supaya kita memperhatikan keadaan kita. Jangan sampai sibuk membangun rumah kita sendiri, sibuk dengan urusannya masing-masing dan membiarkan Rumah Tuhan menjadi reruntuhan. Kita harus terlibat dalam pelayanan pembangunan rumah Allah dan tubuh Kristus, walaupun itu bagaikan seseorang yang mendaki gunung, terjal, berat dan penuh pergumulan namun dengan kekuatan dan penyertaan Tuhan kita dimampukan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab pelayanan yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.

APA MOTIVASIMU? Setiap hari Minggu banyak orang Kristen berbondong-bondong pergi ke gereja untuk melaksanakan ibadah mingguan. Sebagian orang yang pergi ke gereja memiliki motivasi untuk “bertemu” dengan Tuhan dan mendengarkan ajaran Tuhan sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sebagian orang Kristen yang lain memiliki motivasi yang beragam, ada yang sekedar memenuhi rutinitas, ingin bertemu dengan kenalan baru dan ada juga yang numpang “pacaran” di gereja agar “pacarannya” bisa terlihat lebih “kudus”, yang lebih parah lagi adalah ketika seseorang pergi ke gereja bukan untuk bertemu dengan Tuhan, tetapi untuk mencari hiburan, ingin melihat Bapak pendeta yang ini atau itu atau Ibu Pendeta ini atau itu, knapa?, “abis kalo kotbah lucu”, atau ada juga yang hanya ingin mencari “kesembuhan”

Ada sebagian orang menjadikan gereja sebagai tempat untuk mengenal Tuhan dengan mendengarkan dan melakukan ajaran-ajaran Tuhan. Hal ini tampak ketika seseorang setelah bertobat dan mengenal Tuhan hidupnya berubah, jika pada waktu yang lalu tidak percaya Tuhan, kini menjadi penyembah Tuhan yang setia, jika dahulu hidup dalam kegelapan, terlibat perjudian, narkoba, perzinahan, namun sekarang menjadi orang yang mau bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, menjadi orang yang selektif terhadap makanan dan minuman, menjadi orang yang senantiasa menjaga kekudusan Bait Allah, yaitu tubuhnya.
 
Mujizat, inilah yang seringkali menjadi alasan orang untuk pergi ke gereja. Hal kedua yang tak kalah menariknya adalah menarik tidaknya ibadah, biasanya berfokus pada Worship Leader beserta Singers dan Pemusik, juga khotbah yang lucu, sehingga semua jemaat dapat tertawa, layaknya nonton srimulat, yang penting lucu, tak perduli khotbahnya berisi atau tidak.
 
Jemaat Tuhan wajib meluruskan motivasinya dalam mengikuti ibadah. Ibadah harus diposisikan dimana Tuhan dipermuliakan melalui perbuatan-perbuatan kita. Kita tidak dapat berbuat sesuatu hal yang dapat menyenangkan hati Allah kecuali kita mau mendengarkan firman Tuhan dan menjadi pelaku-pelaku firman.
 
Berkat-berkat Ilahi yang dijanjikan
  • Orang-orang yang menegakkan kembali ibadah yang sejati akan mengalami kasih Tuhan
  • Mereka yang bertobat mengalami berkat dan kebahagiaan
  • Allah berkuasa memelihara kehidupan umat pilihanNya
Sebab itu perhatikanlah, bahwa mulai hari ini Tuhan memberi berkat kepada mereka yang mau memperhatikan serta ikut terlibat dalam pembangunan rumah Tuhan, baik yang secara jasmani maupun yang rohani.



Jumat, 09 Agustus 2013

SEKELUMIT TENTANG STRATEGI PEMBELAJARAN PAK



 Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah langkah-langkah strategis dalam merancang program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sesuai dengan tuntutan kurikulum. Dengan demikian sebelum merancang strategi pembelajaran guru perlu mempertimbangkan keberadaan Peserta didik yang beraneka ragam latar belakang kehidupannya, Peserta didik yang beraneka ragam kehidupan psikis, moral, kognitif, kepribadiannya namun dengan tujuan yang sama bagi semua Peserta didik yaitu agar mereka mengalami pertumbuhan pengetahuan, sikap, keterampilan, mental rohani, moralitas serta memiliki nilai-nilai kristiani melalui Pendidikan Agama Kristen di sekolah.
            Perlu juga dipahami bahwa Pendidikan Agama Kristen adalah mata pelajaran yang bermuatan ranah afektif dan psikomotorik lebih besar daripada kognitif sehingga melalui pembelajaran Pendidikan Agama Kristen diharapkan Peserta didik mengalami perjumpaan dengan Allah di dalam Tuhan Yesus, Sang Sumber Nilai-nilai yang membawa perubahan pada diri Peserta didik khususnya perkembangan iman serta mental moralnya di samping perkembangan pengetahuan dan psikomotoriknya. Keutuhan perkembangan ranah afektif, kognitif, psikomotorik yang didasarkan pada nilai-nilai kristiani menjadi hal yang sentral dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Keutuhan dari ketiga unsur pelaksana pendidikan yakni keluarga, gereja, masyarakat dan sekolah juga menjadi pendidikan strategis yang diakomodir dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen.

1. Pendekatan Dialogis Partisipatif
Pendekatan Dialogis Partisipatif artinya sebagaimana kurikulum dirancang dengan pendekatan tersebut maka strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen pun mengacu pada kurikulum. Pertumbuhan iman, mental, moral dan spiritual yang didasarkan nilai-nilai kristiani Peserta didik menjadi tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Oleh karenanya pembelajaran dirancang sedemikian rupa dengan menggunakan metode, media, bahan belajar yang cocok dengan kompetensi yang diharapkan sehingga proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen membawa Peserta didik untuk berkontemplasi, sharing pengalaman, berefleksi dengan membangun komunitas untuk saling mengasihi, tolong menolong, membangun kepekaan dalam relasi dengan sesama. Dengan Peserta didik berpartisipasi aktif, bereksplorasi, bereksperimen dalam pembelajaran aktif maka Peserta didik akan mengalami dan menemukan sendiri nilai-nilai luhur dari pelajara Pendidikan Agama Kristen dan Peserta didik merasa memiliki nilai-nilai itu dalam dirinya, dalam hal ini guru agama bertindak sebagai fasilitator yang memfasilitasi agar proses pembelajaran itu dapat berlangsung dengan baik. Dengan pendekatan ini, peran guru yang dominan sebagai satu-satunya sumber informasi telah bergeser menjadi fasilitator, motivator, dinamisator, inspirator.
Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu sejumlah mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan kepribadian Peserta didik, sehingga menunjang mata pelajaran lainnya. Pendidikan Agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga, masyarakat sehingga melalui belajar aktif Peserta didik dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakannya yang kongkrit yang merupakan kesaksian imannya di tengah-tengah dunia dan kemuliaan bagi Tuhan.
Pendidikan Agama Kristen tidak cukup hanya sebagai pengetahuan tetapi harus menjadi bagian hidup yakni melalui sikap, tindakan, perilaku yang didasari atas imannya dalam menjalin relasi dan komunikasi dengan sesama dan alam lingkungannya.  
 
2. Strategi Penyusunan Program Pembelajaran PAK
            Untuk menyusun strategi program pembelajaran/desain pembelajaran Pendidikan Agama Kristen perlu berkoordinasi dengan wali kelas, wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk menentukan langkah-langkah persiapan sebagai berikut:
·         Program pembelajaran disusun bersama antara guru-guru agama Kristen di wilayahnya atau kelompok-kelompok guru agama Kristen untuk mengaplikasikan kompetensi dan materi pokok dalam kurikulum sesuai kebutuhan Peserta didik di sekolahnya/di lingkungannya/di daerahnya.
·     Metode-metode dapat disepakati agar masing-masing guru memilih sesuai situasi kondisi sekolah dan Peserta didiknya demikian pula evaluasinya tetapi tetap agar mengacu pada pendekatan dialogis partisipatif yang berpusat pada kehidupan Peserta didik.
·      Pembelajaran dirancang agar terjadi komunikasi, refleksi, sharing pengalaman iman antar Peserta didik dan Peserta didik dengan guru.
·    PAK dapat mencapai sasarannya jika terjalin komunikasi dari pelaku-pelaku PAK yakni keluarga, sekolah, gereja sehingga saling melengkapi sesuai dengan fungsinya.

3. Penyajian Program Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
            Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatoris yang berpusat pada kehidupan Peserta didik (live centre), proses pelaksanaannya dilakukan melalui 3 (tiga) paket kegiatan, yaitu:
a.       Kegiatan Belajar Mengajar Di Kelas
Strategi kegiatan belajar mengajar di kelas yang dilakukan oleh guru agama Kristen ditempuh dengan cara menjabarkan kompetensi melalui langkah-langkah pembelajaran aktif dengan mendasarinya pada kesaksian Alkitab, langkah-langkah pembelajaran dilakukan sebagai berikut:
  1. Pembukaan pembelajaran dengan doa, nyanyian dan membaca Alkitab sesuai dengan kompetensi yang sduah ditetapkan, kegiatan ini kira-kira berlangsung 10-20 menit.
  2. Pembahasan materi pokok sesuai dengan modul bingkai materi Pendidikan Agama Kristen kira-kira 40-60 menit, dengan pembagian sebagai berikut: pengantar tentang materi pokok yang akan dipelajari (5 menit), pembahasan materi pokok dimulai dengan membaca Alkitab sesuai materi pokok (35 menit), tes penguasaan bahan secara lisan (5-10 menit), konsolidasi sebagai usaha pembetulan pemahaman Peserta didik yang kurang pas terhadap materi yang dipelajari.
  3. Strategi pembeajaran ini dapat dilaksanakan secara luwes dan tidak mengikat, tergantung pada kompetensi, materi pokok, suasana Peserta didik, perkembangan keadaan lingkungan/kelas. Adapun tugas-tugas kegiatan intra kulikuler yang dilakukan oleh Peserta didik terdiri dari kegiatan tugas berstruktur (pekerjaan sekolah/pekerjaan rumah), belajar mandiri, pelaksanaan praktek ibadah serta evaluasi tengah dan akhir semester.
b.      Kegiatan Mandiri Peserta didik
Kegiatan mandiri adalah tugas pengalaman dan pengamalan keagamaan yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Kristen kepada setiap Peserta didik pada setiap pembelajaran satu semester. Kegiatan mandiri ini diupayakan agar unjuk kerja/performance dan sikap Peserta didik dalam belajar PAK. Bentuk kegiatan yang harus dilakukan ditentukan batasan minimal sesuai tingkat kompetensi pada setiap kelas meliputi kegiatan keagamaan yang harus dilakukan di lingkungan sekolah, gereja, keluarga dan masyarakat. Bentuk-bentuk kegiatannya antara lain: kegiatan keagamaan di sekolah. Program kegiatan keagamaan di sekolah yang harus dilakukan oleh setiap Peserta didik meliputi:
1.    Penguasaan tata cara beribadah/liturgi: doa, nyanyian, sikap beribadah, peran serta dalam ibadah, makna ibadah dan lain-lain.
2. Penguasaan tata cara penelaahan Alkitab: makna pendalaman Alkitab, buku referensi yang mendukung, cara memimpin penelaahan Alkitab, refleksi iman yang disampaikan sebagai kesaksian dirinya, sharing pengalaman iman, komitmen iman dan lain-lain.
3.  Ibadah pada hari minggu dan hari raya gerejawi: kerajina ke gereja, penghayatan pada acara kebaktian yang dibuktikan dengan tulisan/pendapat mengenai makna hari raya gerejawi, peran serta dalam hari raya gerejawi dan lain-lain.
4.  Bedah buku Kristen: pengayaan dengan membaca buku rohani penunjang khususnya studi kasus, masalah sosial yang berkaitan dengan kehidupan beragama.
5.    Studi intensif tentang agama Kristen: meneliti, mengkritisi kehidupan kekristenan melalui media massa, lingkungan di sekitarnya.
6.     Program aksi pelayanan bersama: kegiatan bersama yang responsive, pluralisme agama, budaya, ras, suku dan lain-lain.
7.      Kunjungan antar gereja: kegiatan menjalin kebersamaan dan sharing pengalaman iman.
8.      Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi sekolah: aksi sosial antar agama.
 
4. Kegiatan Keagamaan Dalam Rumah Tangga
            Program kegiatan keagaman di rumah yang harus dilakukan oleh setiap Peserta didik adalah:
a.       Ibadah bersama dalam keluarga.
b.      Penelaahan Alkitab bersama dalam keluarga.
c.       Menjalin persaudaraan dalam kasih Kristus.
d.      Menggali kegiaan keagamaan lain melalui media massa dan mendiskusikannya dalam keluarga.
e.       Melakukan pelayanan bersama pada sesama dari pada keluarga lain dan gereja lain.

5. Kegiatan Keagamaan Di Gereja
            Bentuk kegiatan keagamaan di gereja yang harus dilakuka oleh Peserta didik:
  1. Mengikuti ibadah bersama.
  2. Mengikuti program gereja.
  3. Retreat.
  4. Kemah kerja.
 6. Kegiatan Keagamaan Di Masyarakat
a.      Aksi sosial dalam rangka ibadah bersama pada hari raya keagamaan.
b.     Peran serta dalam hari raya nasional.


Gunung Tangkuban Perahu

 Gunung Tangkuban Perahu terletak di Desa Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat memiliki tinggi 2.084 meter dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang.
Banyak sekali pedagang dan kios-kios yang siap menjual cinderamata, makanan atau minuman. Berbagai cinderamata mulai dari baju, selendang, topi, gelang/cincin, batu alam, tanaman bonsai, alat musik (angklung) hingga senjata tajam khas daerah Jawa Barat turut dijual di lokasi ini. Kedai makanan dan minuman juga tampak berderet siap melayani pembeli.


Rabu, 07 Agustus 2013

Renungan Minggu Pdt. DR. J.M. Nainggolan, M.Th.

Khotbah Pdt. DR. J.M. Nainggolan, M.Th.-GKO Kanaan Bandung-5 Agustus 2013
"Tetap Tegar di Masa-Masa Sukar"

TUGAS LAPORAN BACAAN MATA KULIAH COLLOQUIUM BIBLICUM

Judul buku : Bacaan Manusia Modern 2 (Berpikir Tuntas-Untuk Sebuah Kebenaran yang
Menentukan)
Pengarang : A. Naftallino
Tahun Penerbit : 2011
Penerbit : Intelligensia Learning Book
Cetakan : 1
Tebal Buku : 175 halaman
Garis Besar Buku : Filsafat/Humaniora  

A. EMPAT PERTANYAAN BESAR YANG PERLU PERHATIAN SERIUS
Bahwa dalam hidup ketika cinta bertemu, cinta tidak akan selalu atau pasti akan bahagia. Sebab masih ada waktu esok yang membuat keduanya, atau kita pengamat juga sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi. Karena itu di dalam menganalisa sesuatu kita tidak bisa “menghakimi” atau memberi penilaian final yang, seolah-olah kita mempunyai derajat yang lebih tinggi dari yang kita amati. Karena itu berpikir bijak dan bersikap terbuka, dan terus berani membarui diri adalah sikap yang harus dipupuk. Karena Tuhan-lah yang akan mengujinya.
Kebenaran itu kalau dipraktikan di dalam kehidupan akan mendatangkan damai sejahtera bagi kehidupan, baik kehidupan diri sendiri, orang lain, dan bagi kemajuan kehidupan di dunia ini pada umumnya. Kebenaran (moralitas) adalah kebenaran yang menjamin nilai eksistensi manusia. Kebenaran dalam tataran ini adalah kebenaran yang erat dengan tata nilai atau norma-norma kehidupan yang kita sebut sebagai hukum.
Pertanyaan pokoknya adalah, apa itu moral? Apa artinya anda bisa ini bisa itu, punya ini dan punya itu, tetapi kalau nilai moral anda rendah atau tercela, bukankah orang akan melecehkannya! Kecuali mereka yang sudah buta terhadap nuraninya!
 Rasa cemas dan takut itulah yang memungkinkan manusia mencoba mencari solusi atau mencoba menenangkan diri lewat berbagai macam cara dari mulai tindakan-tindakan mistis (keagamaan) yang primitive sampai kepada tingkat yang dianggap rasional (seperti ideologi) yang mana masing-masing intinya mencari solusi untuk mengatasi rasa bersalahnya atau kecemasannnya.
Jadi jawaban sementara yang dapat diberikan di sini atas pertanyaan: Apa sesungguhnya kebenaran itu? Yaitu suatu nilai yang dapat memuaskan baik suara hati (batin) maupun rasio (akal budi) kita sebagai makhluk sosial yang bermartabat.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sosok orang yang mempunyai keyakinan atau berkeyakinan haruslah memperlihatkan kualitas (moralnya dan sekaligus kualitas karya praksisnya). Dan semuanya ini testisnya adalah akan terlihat dari sikapnya terhadap sesamanya. Dalam artian, berkeyakinan dengan akal sehat dan tidak membabibuta.
Kebenaran yang sejati sudah pasti akan bersikap terbuka, berani untuk dikritisi dan tidak akan pernah goyah dan berubah oleh situasi. Dan buahnya pasti memajukan peradaban kebebasan, persaudaraan, kesetaraan yang intinya semakin menjunjung tinggi martabat manusia.
Hakikat kebenaran pasti bersifat terbuka, terbuka untuk dikritisi, dan dalam arti yang positif ia tidak akan pernah bertentangan dengan nilai-nilai keagungan moralitas, kebebasan dan nalar. Karena itu ia pasti akan sanggup membela dirinya tanpa harus diproteksi oleh kekuatan dari luar. Pada titik inilah rasio dan kejujuran kita akan diuji kekuatan dan konsistensinya. Sebab hanya dengan kejujuran, kebenaran akan menyingkapkan dirinya dengan terang benderang.
Sebab tidak sedikit orang yang beragama hanya akan mencari atau dijadikan “jalan” untuk mendapatkan rezeki, jabatan atau keuntungan-keuntungan lainnya yang secara esensial tidak ada hubungannya dengan watak kebenaran itu sendiri.
Pada titik inilah bila kita hendak menemukan kebenaran sejati, kita bisa berangkat dari titik (spirit) Descartes, atau spirit para filsuf besar lainnya yang bergairah (mencari) jawaban tentang misteri besar dunia ini. Pertama, kita harus memulai dengan kesadaran diri bahwa eksistensi kita di bumi ini adalah bagian dari misteri besar yang dalam batas-batas tertentu siapapun kita pasti menginginkan kepastian. Kedua, bahwa kesadaran saja belum cukup, ia perlu juga disertai atau disemangati oleh kejujuran dan ketulusan. Ketiga, seseorang dengan sendirinya dan dengan pasti aktif berpikir alias mem-fungsikan rasionya. Kesadaran dan kejujuran akan menjadi frame atau bingkai yang bisa menjaga sejauhmana rasio berfungsi. Kebenaran dan moralitas tidak akan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan siapapun.
Jadi hidup dan nilai sebenarnya berbicara tentang keutuhan nilai sebagai manusia, yaitu hakikat hidup yang sebenarnya. Boleh dikatakan bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu yang bernilai kalau hidup itu sendiri tidak ada. Karena itu hidup akan bermakna atau semakin bernilai bilamana ia berjalan seturut dengan hakikat (kebutuhan) kemanusiaannya dengan cara-cara yang luhur.

B. EXCURSUS TUHAN DAN SEBUAH PERSPEKTIF

Sebenarnya kalau kita kritis dan jujur menilai dan merangkum inti sari hukum Taurat, ia merupakan bentuk eksplisit yang diungkapkan (Allah secara tertulis) yang, sebenarnya secara implisit sudah tertanam di dalam benak manusia. Atau dengan kata lain sebenarnya justru kemuliaan manusia sebagai makhluk mulia itu karena dilekati oleh hukum ilahi di benaknya. Itu sebabnya manusia dalam tingkat kesadarannya yang tinggi ia pasti mencari realitas yang dianggap kebenaran tertinggi, ujung-ujungnya ialah kepada Tuhan.

C. PERSOALAN KEDUA PENGUJIAN KEAUTENTISITASAN
Siapapun kita perlu berpikir bijak sebab kita semua bisa berbuat kesalahan. Kebenaran ilahi yang sejati itu akan dengan pasti membuat watak manusia menjadi lebih “indah” dan semakin rendah hati dan bijak. Dan karena itu kebenaran ilahi yang sejati pasti akan semakin men-support nilai-nilai kebebasan yang menjunjung tinggi nilai-nilai martabat kemanusiaan. Tanpa ini semua, klaim-klaim kebenaran ilahi hanya “tong kosong berbunyi nyaring, alias suara kebohongan dan atau kesia-siaan belaka yang justru akan menghancurkan sendi-sendi peradaban.
Hal yang paling bernilai dalam hidup di dunia ini sebenarnya adalah kebebasan hak individu itu sendiri sebagai manusia yang bernilai. Jadi jawabannya sebenarnya sangat sederhana, yaitu mengedepankan relativitas. Dalam artian bukan untuk menolak adanya kemutlakan kebenaran. Tetapi maksud dari pengertian relativitas di sini lebih berbicara tentang persepsi diri (personal perspective) yang disemangati roh kebebasan. Lebih jelasnya persepsi yang benar dalam konteks kita sebagai manusia, harus bernilai ganda, yaitu persepsi ilahi dan persepsi insani. Karena pada hakikatnya, kebenaran atau nilai-nilai yang insani tidak akan pernah bertabrakan dengan nilai-nilai yang bersifat ilahi.
Kalau orang yang kita stigma sebagai kafir (orang yang tidak beriman), ternyata mereka mampu hidup bijak, berpengetahuan luas, giat (cinta) dalam kebajikan dan bahkan, pengetahuan mereka tentang nilai-nilai kemanusiaan malah menjadi pegangan atau fondasi hidup kemasyarakatan dan kebangsaan. Lalu pertanyaan krusialnya sekarang ialah, pertama dimana letak kebenaran wahyu yang dianggap mutlak, dalam posisi masyarakat (kafir) yang beradab dan demokratis ini? Kedua, kira-kira apa yang saya harus lakukan sebagai seorang agamais di tengah-tengah kaum kafir yang ternyata lebih maju dan beradab ini? Ketiga, adakah perasaan malu terhadap diri sendiri yang satu sisi mengaku diri mengenal Allah, Tuhan sumber dari segala nilai dan keagungan, tetapi pada sisi lain “kalah” segala-galaya dengan mereka yang kita stigma sebagai kafir.

D. EXCURSUS AGAMAIS-AGAMAIS SEJATI
Yang bermutu atau yang berkelas itu pasti mengendepankan akal sehat dan nurani yang peka terhadap kejujuran dan hal-hal yang bernilai lainnya. Bahwa Kebenaran yang Ilahi, kalau benar Ia ada dan sampai ke dunia ini lewat mereka-mereka yang mengaku sebagai utusannya. Pasti, pertama hidup mereka atau watak mereka yang telah dipilih menjadi utusanNya itu sudah dapat dipastikan sebagai sisik yang berintegritas. Dan ketika kebenaran Ilahi datang padanya akan semakin berintegritas. Karena itu kata “integritas” dalam konteks ini, akan mengandung tiga aspek kebenaran: (1) kebenaran yang bersifat insani, yaitu kebenaran yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, dan yang ke (2) sosok orang yang mengaku menerima wahyu itu sendiri, apakah secara moral ia berintegritas dengan nilai-nilai kebenaran (norma-norma universal) insani yang menjunjung nilai martabat kemanusiaan (HAM) dan (3) yang mana antara spirit kebenaran yang insani ini, dengan spirit kebenaran ilahi (wahyu) sudah pasti sinkron.
Dan yang kedua, bahwa kebenaran yang ilahi itu bila dipraktikkan secara konsisten, di keseluruhan wilayah kehidupan praksial manusia, akan dengan pasti mendatangkan keharmonian, rahmat dan kebaikan! Singkatnya, tidak akan ada keganjilan dan darah tertumpah secara sia-sia dengan atau atas nama kebenaran dan agama!
Dengan kata lain, yaitu kekudusan dan kemuliaan Allah dalam arti, hal itu berbicara mengenai segala perbuatan kita sebagai kaum agamais, yaitu mencerminkan nilai kekudusan dan kemuliaan sosok (oknum) yang kita imani kebenaran firman-Nya. Kalau spirit yang demikian ini tidak ada dalam benak kita yang terdalam, boleh saja kita berjubahkan jubah-jubah agama dengan segala atribut kemegahannya, anda tetap saja sampah di mata Tuhan.

E. PERSOALAN KETIGA REALITAS DAN PERLUNYA KEPASTIAN
Eksistensi dan makna itu sesungguhnya bagai satu keeping mata uang yang mempunyai dua sisi gambar yang berbeda, tetapi merupakan kesatuan yang saling melengkapi. Keberadaan eksistensi menuntut makna, sebaliknya makna itu sendiri tidak akan ada tanpa adanya eksistensi. Dan keduanya berada (terhisap) ke dalam realitas yang namanya ada-hidup. Esensi ada ialah hidup, dan esensi hidup ialah ada! Inilah konsepsi ideal yang harus melekat atau mendasari nilai diri pada ego kita sebagai manusia.
Kenapa kita harus bijak, karena di tengah realitas semesta, ada sebuah kepalsuan yang menipu dan memperdaya. Dan implikasi sebuah kepalsuan adalah fatal! Sebab upahnya bukan saja ketidakberadaban, tetapi juga kepastian maut atau kematian kekal sebagai upahnya. Itu sebabnya kenapa kita harus sebijak mungkin di dalam menentukan pilihan-pilihan nilai dan menyadari betapa pentingnya pilihan itu.
Hidup adalah anugerah. Sebab kita sebagai makhluk manusia tidak (menjadi) ada dengan sendirinya seperti ajaran evolusi. Tetapi (menjadi) ada oleh karena ada pemrakarsanya, yaitu Dia sang Ada Pemberi hidup. Oleh sebab itu, hidup yang kita hidupi, mempunyai tanggungjawab nilai, yaitu nilai keagungannya dan sekaligus mandat hidupnya sebagai manusia. Dalam konteks inilah, banyak orang tidak menyadari dan atau malah tidak mengerti sama sekali, bahwa hidup ini seharusnya dimulai dengan titik kesadaran: darimana hidup dimulai, bagaimana melakukan, apa dan menuju kemana hidup ini diarahkan. Tidak heran bila banyak orang hidupnya terhanyut sedemikian rupa ke dalam arus yang dangkal, karena mengejar kecedasan dan kenikmatan tetapi mengabaikan kesadaran akan nilai spiritualitasnya.
Bagaimana kita memberi jawab atas pertanyaan serius Hume ini? “Adakah Allah mau mencegah kejahatan, tetapi tidak mampu? Kalau begitu Dia tidak berdaya. Adakah Allah mampu tetapi tidak mau? Kalau begitu Ia berhati kejam. Adakah Ia mampu dan mau: kalau begitu darimana kejahatan itu? Kegagalan kita menjawab pertanyaan ini, akan menunjukkan kedangkalan kita dalam memahami realitas.
Singkatnya, pribadi Allah Pencipta yang melampaui ruang dan waktu, yang transenden, tidak terjangkau oleh ciptaan, menjadi tampak dalam rupa kemanusiaan manusia. Karena itu ketika manusia “kehilangan” watak welas asihnya terhadap sesama, ia akan tampak seperti monster yang siap melahap mangsanya.
Berbicara persoalan moralitas yang melekat dalam diri manusia. Lebih dalam daripada sekedar berbicara persoalan baik dan buruk. Dengan kata lain, hakikat moral itu sesungguhnya adalah gambar kesempurnaan Ilahi yang ditanamkan (dipercikkan) dan melekat dan sekaligus terpancar dalam diri kemanusiaan manusia. Tanpa nilai moral yang melekat, yang mendasari nilai kemanusiaannya, manusia tidak lebih dari seekor binatang yang berjalan tegak. Layaknya hewan (seekor binatang) pada umunya yang tidak mengenal budaya dan keindahan.
Hati yang bijak akan pasti selaras dengan kebenaran (hikmat Allah). Dan Roh Kebenaran akan semakin mendalamkannya. Singkatnya, dalam tradisi iman Kristen yang alkitabiah, adanya keyakinan akan kelahiran baru akan dipengaruhi akan budi kita oleh Roh.
Roh yang termeterai dalam hati itu menjadi jaminan (kepastian) yang menyangkut hidupnya masa kini, dan masa yang akan datang.
Siapapun anda, kalau dalam hidupnya yang diliputi serba misteri ini tidak secara serius memberikan waktu untuk mencari dan mempelajari nilai apakah yang paling bernilai yang memberi jaminan pasti, sungguh bodohlah dia!

F. EXCURSUS YESUS TITIK KEMUNGKINAN KEPASTIAN YANG MUNGKIN
Mengapa Yesus menjadi pusat atau titik kepastian, perkataan-perkataan di atas hanya mungkin keluar dari mulut sosok orang yang benar-benar Manusia Ilahi. Di dalam dan melalui Yesuslah manusia menemukan solusi dan patron dignity yang telah kehilangan daya hidup yang ilahiah. Pertama, kalau kita jujur, kita pasti mengaku betapa letih lesu kita sebagai manusia mencari jawaban pasti terhadap misteri hidup di dunia ini.
Dan alasan yang kedua, ketika kita mempertaruhkan (takdir) hidup kita kepada-Nya, dalam artian ketika kita masuk dan hidup seturut kuk (kebenaran ilahiah) yang diajarkan Yesus yang harus kita jalani, bersamaan dengan itu kita mengalami kelahiran baru. Artinya inilah alasan yang ketiga, kuk Yesus yang kita pakai sebagai jalan hidup tadi, yaitu kebenaran firman-Nya telah benar-benar memerdekakan kita dari jalan kegelapan.

G. PERSOALAN KEEMPAT “MANUSIA BIJAK”
Seperti yang telah disinggung terdahulu perihal manusia bijak atau orang bijak, yang mana watak itu tidak bisa dipisahkan dari tingkat kesalehan atau keimanan seseorang. Dimana kebenaran nilai yang dipegangnya telah mengubah kedalaman sikap mentalnya oleh karena pembaruan-pembaruan (budi) yang dialaminya.
Manusia bijak artinya dalam hidup ini, dimana tingkat misterinya begitu dalam dan banyak hal yang tidak diketahui manusia dengan pasti, maka kita harus sadar bahwa hidup ini wataknya tidak bisa ditawar-tawar. Salah dalam arti mengeraskan hati atau mengabaikan terhadap kejujuran dan kebenaran, resikonya adalah sesat, fatal dan kehancuran.
Tetapi ingat, tidak berarti kalau anda tidak religius, dan atau ateis lalu lantas pasti tidak bermoral! Namun nilai moralitas di sini hanya sebatas penilaian baik dan buruk menurut ukuran atau persepsi manusia yang seringkali hanya dilihat dari untung dan rugi.
Sebab jika benar passion anda tertuju kepada kebenaran dan ketidakbinasaan, anda tidak akan sanggup melawan kejujuran dan ketulusan spirit (passion) yang membara dalam hati anda.

H. EXCURSUS PERADABAN MAJU, BUKAN SOAL AGAMA, MELAINKAN KEMANUSIAAN DAN KECERDASAN
Peradaban maju esensinya adalah soal kemanusiaan, kecerdasan dan keadilan yang beradab. Apa artinya kecerdasan bila tidak dimotivasi dan atau tidak disemangati oleh nilai-nilai kemanusiaan, pasti terjadi keserakahan di sana, di mana keadilan diinjak-injak. Tetapi menegakkan keadilan pun bila tidak disemangati dan atau tidak dilandasi nilai-nilai kemanusiaan, bukan peradaban yang terjadi, tetapi kebiadaban atau kebengisan yang terjadi.
Jadi bicara tentang (nilai-nilai) kemanusiaan berarti berbicara manusia seutuhnya yang menyangkut rasa keadilannya dan hakikat potensialnya yang berguna bagi dan untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupan (manusia) itu sendiri. Inilah esensi (ruh) peradaban yang sejati. Dan kasih adalah kebutuhan yang paling asasi dari hakikat kemanusiaan itu sendiri. Sebaliknya bicara peradaban (maju) esensinya berbicara kesejahteraan manusia yang semakin mengangkat derajat martabat manusia dengan memancarkan nilai-nilai keagungan kemanusiaannya.

I. PENDAPAT
Buku ini banyak memberikan sumbangsih dalam kajian filsafat humaniora, terutama dalam pemaparan apa dan bagaimana pemahaman yang dimiliki seseorang tentang kehidupan dirinya sendiri, karena penulisnya berusaha memaparkan perkembangan pemikiran manusia melalui dialektika dari masa ke masa, yaitu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah, keselamatan, kebahagiaan serta cara-cara bagaimana mencapai kesempurnaan berpikir melalui dialektika kritis. Buku ini hanya disarankan sebagai pengantar saja.

J. PENUTUP
Pada masa yang akan datang dapat disempurnakan lebih baik lagi dalam hal tata bahasa dan penyajian informasi agar dapat memberikan informasi yang lebih lugas lagi dalam upaya memberikan pengetahuan dan membuka wawasan pembaca.